Sang Maharaja ingin mencarikan jodoh bagi putrinya, Putir Busu.
Untuk itu diadakanlah sebuah pertandingan adu kesaktian.
Dipanggillah seluruh pemuda-pemuda kuat sejagat raya. Dari segala macam ras, suku, dan bangsa.
Semua tokoh sakti datang, ada yang penasaran dengan kecantikan putri,
ada yang hanya ingin menunjukkan bahwa dirinyalah yang paling sakti.
Pertandingan pun dimulai.
Di wilayah kerajaan, ada sebuah pulau yang dikenal sebagai Pulau
Tengkorak. Dinamakan Pulau Tengkorak bukanlah karena pulau tersebut
mirip tengkorak. Bukan pula karena disana banyak makhluk hidup yang
mati, namun karena semata-mata penulis sedang suka dengan nama itu.
Pulau Tengkorak terkenal dengan Kolam Kematiannya, kolam yang berisikan
buaya-buaya purba, yang haus dan lapar akan darah dan daging.
Tidak akan ada yang tersisa kalau sesuatu masuk kedalam kolam tersebut.
Entah itu batu, baja, intan, permata, apalagi daging… Ehh… Sungguh suram
dan seram.
Airnya yang pekat hitam, seperti warna darah yang membusuk, membuat kolam
tersebut laksana racun mematikan, bahkan mematikan bagi yang sudah mati.
Pertandingan yang diinginkan oleh Maharaja sangat sederhana, siapapun
yang menceburkan diri kedalam kolam, dan berhasil selamat, maka dialah
pemenangnya.
Pemenang berhak mendapatkan seluruh harta kerajaan, dijadikan ahli
waris, dan berhak mempersunting Putir Busu sang Puteri Kyud nan manis
dan imuttt…
Semua pemuda perkasa, pria dewasa, dan kakek-kakek tua pun mengangguk. Tak ada yang mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Bagi mereka yang kakek-kakek, mati pun tak apa, asalkan bisa lepas dari kutukan susu basi… Hah?? Apa pula yang dimaksud itu?
Baiklah, kali ini pertandingan benar-benar dimulai. Dan Pendongeng
yakin, para pembaca sudah penasaran tentang apa yang akan terjadi,
mungkin pembaca berusaha menebak, dan berpikir bahwa cerita ini sudah
basi, karena endingnya pasti yang itu-itu saja. Halaahh
Baiklah…
“Byurr”, terdengar suara seorang sakti melompat ke air, tapi sayang
kesaktiannya tidak mampu menambah nafasnya di dunia, tulangnya tak
bersisa dilahap buaya-buaya purba yang lapar.
Kemudian disusul oleh ‘byurr-byurrr’ yang lain namun tak ada yang selamat, seutas rambutpun tidak.
Ratusan, ribuan, pemuda yang melompat, sirna ditelan kehampaan. Sang
buaya-buaya purba nan selalu lapar tak menyia-nyiakan santapan
gratisnya, bahkan masih banyak buaya lain yang tak mendapatkan santapan.
Hening…
Tak berisa lagi peserta yang ingin mencoba tantangan. Semuanya habis.
Wajah Maharaja pun mengeruh, laksana kemarau yang dirampok sang mendung.
Sedih tiada tara, “tak adakah penerus bangsa lagi di bumi Tambun Bungai
ini, yang bebas dari korupsi dan kemalasan?” tanyanya dalam hati.
Namun tiba-tiba….
“BYYYUUUUURRRRR”,
tampak seseorang masuk kedalam kolam, berlomba dengan riak air ia
berenang ke seberang, tangannya bergantian mengayuh, laksana
kincir-kincir angin ia berenang. Semua mata tertuju padanya, semua nafas
penonton seolah terhenti. Angin pun terhenti. Kedegangan menyelimuti
semesta.
Dan… Ia selamat.
Riuh gempita tepuk tangan penonton, membahana menyambut sang Pemuda.
Putir Busu menangis bahagia, parasnya yang ‘Kyutt’ merona, senyum
manisnya tampak melengkung tipis namun memesona, kulit putihnya
bercahaya pula. Begitu pun dengan Maharaja, yang segera berlari memeluk
Sang Pemenang!
“Selamat… Kamulah pemenangnya” Kata Maharaja.
Pemuda yang kurus hitam dan tampak pucat itu menyahut.
“SELAMAT APANYAA?” teriaknya.
Matanya menatap tajam ke arah penonton.
“SIALAN KALIAN!! SIAPA YANG DORONG GUA TADI??? UNTUNG GUA KAGAK MATI MONYONG!!!!!”
---------------------------
T.A.M.A.T

No comments:
Post a Comment